Senin, 01 Januari 2018



Pembalap Tim KTM, Bradley Smith menuturkan bakal menyiapkan mental dan fisik dalam menghadapi persaingan MotoGP 2018. Ia pun antusias untuk menjalani jeda musim guna melengkapi berbagai hal jelang kompetisi musim depan.

Meski demikian, Smith mengaku dirinya sempat tertekan dengan persaingan di MotoGP 2017. Ia pun harus puas berada di peringkat 21 klasemen akhir dengan raihan 29 poin dari total 18 seri balapan.

Smith sempat tiga kali gagal mendulang poin di Grand Prix (GP) Catalunya, Belanda, dan Republik Ceko. Prestasi terbaik Smith di MotoGP 2017 adalah finis di urutan 10 saat mentas di GP San Marino dan Australia. Sisanya, ia menyelesaikan balapan di luar 10 besar.

“Untuk pertama kali, saya benar-benar menantikan liburan pascamusim, Anda merasa sudah membutuhkannya. Apakah itu tes tambahan yang kami lakukan, tekanan tambahan menjadi tim pabrikan, atau setidaknya dalam proses bergabung ke tim pabrikan. Ini jauh lebih menuntut mental dan fisik,” kata Smith, mengutip dari Autosport, Selasa (2/1/2018).

Smith tetap senang dengan pencapaian yang diraihnya bersama KTM meski belum maksimal. Pembalap berpaspor Inggris itu menyebut dirinya mengambil banyak pelajaran dari kinerja KTM yang tampil perdana di kelas MotoGP pada 2017.

“Saya akan mengatakan bahwa itu (bela KTM di MotoGP 2017) menyenangkan. Saya telah banyak belajar, saya menikmati prosesnya secara fenomenal. Ini membuka mata Anda dalam banyak hal. Anda mulai mengerti saat berada di tim satelit, jauh lebih mudah dari yang Anda sadari,” jelasnya.

KTM memiliki tiga pembalap yang terdaftar di MotoGP 2017, yakni Bradley Smith, Pol Espargaro, dan Mika Kallio. Untuk Espargaro meraih hasil lebih baik dari Smith lantaran berada di posisi 17 dengan mengumpulkan 55 poin. Sedangkan Kallio hanya tampil di empat seri balapan (11 poin).


Performa gemilang ditunjukkan Jorge Lorenzo saat membela Tim Yamaha selama sembilan musim. Sejak bergabung Yamaha di musim perdananya pada 2008, pembalap berjuluk X-Fuera itu telah mencuri perhatian sejumlah kalangan lantaran masuk jajaran empat besar di klasemen akhir.

Tampil sebagai rookie MotoGP 2008, Lorenzo mampu memberikan persaingan ketat kepada pembalap lain, terutama rekan setimnya, Valentino Rossi. Namun, The Doctor -julukan Rossi- tampil gemilang dan keluar sebagai juara dunia di musim tersebut.

Setahun berselang, Lorenzo menunjukkan perkembangan pesat dengan menempati peringkat dua di klasemen akhir MotoGP 2009. Ia masih kalah bersaing dengan Rossi yang berhasil mempertahankan gelar juara dunia dalam dua musim beruntun.

Akhirnya, Lorenzo meraih gelar perdana juara dunia MotoGP pada 2010 dengan 16 kali naik podium dari total 18 seri balapan. Kali ini, X-Fuera tampil impresif dan mengungguli Rossi yang harus puas berada di peringkat tiga klasemen akhir.

Selain 2010, Lorenzo kembali menjadi yang terbaik di kelas MotoGP bersama Yamaha pada 2012 dan 2015. Namun, pembalap berkebangsaan Spanyol itu memutuskan untuk pindah ke Tim Ducati pada 2017.

Lorenzo mengaku senang mendapat perlakuan menyenangkan saat membela Tim Yamaha. Ia pun mendapat dukungan penuh dari tim sehingga motornya dapat menunjukkan performa gemilang di lintasan.

“Sejujurnya, Yamaha selalu memperlakukan saya dengan baik sejak bergabung dengan tim ini sejak 2008. Mereka memberikan saya semua dukungan dengan performa motor yang baik,” ujar Lorenzo, mengutip dari Crash, Selasa (2/1/2018).

“Saya memiliki segalanya. Pada tahun pertama dibandingkan Rossi, saya mendapat ban Michelin dan aspek ini jadi titik saya meraih hasil baik setahun berikutnya (2009). Kondisi saya di lintasan mencapai 99,9%,” ungkapnya.

“Mungkin saya melakukan kesalahan pada akhir 2010 untuk pindah dari Yamaha karena saya ingin menjadi pembalap nomor satu dan saat Jorge (Lorenzo) tiba (Yamaha) diperlakukan sama seperti saya. Jadi, saya tidak suka ini (gabung ke Ducati) dan ini sebagai sebuah kesalahan,” ungkap Rossi, mengutip dari Crash, Selasa (2/1/2018).
Saat membela Ducati, Rossi justru tak mampu menunjukkan kapasitasnya sebagai salah satu pembalap veteran MotoGP. The Doctorhanya dua musim membela Ducati dengan raihan posisi tujuh di klasemen akhir MotoGP 2011 dan menempati peringkat enam pada MotoGP 2012.
Usai mendulang hasil kurang baik, Rossi akhirnya membuat keputusan untuk kembali bergabung ke Yamaha. Ia menuturkan dirinya kini mendapat perlakuan sama dengan Lorenzo di pentas MotoGP 2013-2016.
Hal itu pun terbukti dengan raihan The Doctor yang berada di posisi empat pada klasemen akhir MotoGP 2013. Selanjutnya, pembalap berpaspor Italia tersebut keluar sebagai runner-up selama tiga musim berturut-turut pada 2014-2016.
Di sisi lain, Lorenzo masih meraih hasil lebih baik dari rekan setimnya, Rossi di Tim Yamaha. X-Fuera -julukan Lorenzo- tampil sebagai runner-up (2013), peringkat tiga (2014 & 2016), dan juara dunia MotoGP 2015.
“Sekarang sama saja, tapi itu (kebijakan perlakuan setara Yamaha) merupakan keuntungan kecil bagi saya karena Lorenzo masih di Yamaha (saat MotoGP 2013-2016), menjadi juara dunia tapi sejak saya kembali saya memiliki perlakuan yang sama persis dengannya. Yamaha memang menyukai Lorenzo dan saat banyak bertarung mereka mencoba mendukung kami 100%,” jelas Rossi.