Kamis, 21 Februari 2019

Meniadakan Kecurangan di Bidang Perbankan

Pesatnya perkembangan digitalisasi menjadi tantangan tersendiri di bidang perbankan. Khususnya, upaya untuk mengurangi tindak kecurangan atau fraud. Dalam warta 

"Inilah 9 Kasus Kejahatan Perbankan" diperoleh informasi bahwa kecurangan tersebut umumnya berupa pembobolan bank di berbagai industri perbankan dengan memanfaatkan celah, antara lain,  lemahnya pengawasan internal control bank terhadap sumber daya manusia.

Mengingatkan laman ahmadferdiansyah-ekonomiakuntansi.blogspot.co.id menyebutkan bahwa fraud atau kecurangan adalah suatu tindakan atau perbuatan yang dengan maksud disengaja menggunakan sumber daya organisasi/perusahaan secara tidak wajar untuk memeroleh keuntungan pribadi sehingga merugikan pihak organisasi/perusahaan yang bersangkutan atau pihak lain. 

Kemudian, Dalam industri Perbankan, Fraud dapat di artikan sebagai tidandakan sengaja melanggar ketentuan internal meliputi (1) Kebijakan, (2) Sistem dan (3) Prosedur yang berpotensi merugikan bank baik material maupun moril.

Milenial Sementara itu, dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, hari ini, dari Serikat Pekerja Bank Negara Indonesia (SP BNI), diperoleh informasi bahwa kalangan generasi milienial diingatkan soal pesatnya kemajuan teknologi informasi. 

Kemajuan ini dialami oleh mayoritas pegawai BNI. "Mayoritas pegawai BNI kan generasi milenial," tutur Direktur Utama BNI Achmad Baiquni saat meresmikan Rumah Aspirasi, sekaligus memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) SP BNI yang ke-19, di Jakarta, pada Sabtu (3/3/2018) pekan lalu. 

Achmad Baiquni menekankan bahwa upaya mencegah kecurangan dimaksud adalah dengan mengutamakan integritas. Apalagi, pesatnya kemajuan teknologi informasi juga mempercepat kerja karyawan menuntaskan tugas-tugas. "Ini harus diimbangi dengan integritas yang kuat dari semua pekerja.

Jangan sampai karena ingin cepat dan instan, integritas diabaikan, sehingga akan menimbulkan fraud di segala bidang," tuturnya pada perhelatan yang mengangkat tema “Integritas Zaman Now” itu.   

Baiquni menambahkan, sampai saat ini, visi SP BNI dan visi manajemen BNI dapat berjalan selaras tanpa ada hambatan yang berarti. Kunci sukses dari selarasnya visi tersebut adalah adanya kepercayaan antara SP BNI dengan manajemen BNI, begitu juga sebaliknya.

“Sepanjang ada kepercayaan antara SP BNI dengan manajemen BNI, begitu juga sebaliknya, maka visi tersebut dapat berjalan secara selaras, sehingga harmonisasi antara SP BNI dengan manajemen BNI dapat terwujud,” ujarnya. 

Sementara itu, Ketua Umum SP BNI Irfan Ferdiansyah mengatakan pihaknya merumuskan misi menjadi tiga besaran yaitu, peningkatan kompetensi dan kontribusi anggota terhadap kinerja perusahaan, komunikasi efektif, dan berperan aktif dalam program pencegahan fraud.

0 komentar:

Posting Komentar